Saat-saat yang dinantikan banyak orang itu terjadi juga. General Election alias Pemilu Amerika Serikat akhirnya sampai pada penentuan hasil akhir. Dan seperti yang telah diduga dan diramalkan banyak pihak, Barrack Hussein Obama, calon presiden dari Partai Demokrat memenangkan kompetisi politik akbar tersebut. Obama, yang pernah bersekolah di Jakarta itu, menjadi presiden terpilih, sekaligus presiden kulit hitam pertama bagi negara super power Amerika Serikat.
Memang ada banyak simbol yang inheren dengan individu Obama yang membuatnya dikagumi dan digadang-gadang banyak pihak. Pertama, soal usia mudanya. Di usia kepala empat, Obama berhasil bertengger di posisi yang diyakini sebagai kedudukan terpenting di dunia pada masa ini. Hal ini tentu saja mengundang simpati dan kekaguman banyak pihak. Di Indonesia, para pendukung isu kepemimpinan kaum muda seolah mendapatkan ‘contoh barang’ yang nyata tentang impian mereka yang selama ini selalu saja dimentahkan kaum tua dengan alasan-alasan yang memposisikan mereka seolah-olah kaum utopian. Maka berjuta-juta kaum muda di berbagai penjuru dunia dengan serta-merta menjadi fans Obama.
Kedua, persoalan ras. Obama yang merupakan warga kulit hitam, kelompok yang selama ini dimarjinalkan dan berabad-abad teralienasi pergaulan sosial-politik dunia Barat, muncul sebagai pemimpin utama di negara sebesar Amerika Serikat. Maka sosok Obama menjelma bak dewa. Dia dianggap pahlawan kaum marjinal, dan nilai kepahlawanannya seolah-olah hampir menyaingi heroisme Nelson Mandela pada dekade lalu.
Ketiga, soal afiliasi politik. Obama yang berasal dari partai Demokrat, berhadap-hadapan dengan partai Republik yang belakangan terlanjur berbau anyir darah karena kebijakan si ‘Koboi Mabuk’ George W Bush yang menebar teror dan perang di berbagai belahan dunia, seolah-olah menempatkan Obama sebagai sebuah antitesis dari Bush. Seolah Obama adalah kalimat yang merupakan antonim dari nama yang paling menakutkan abad ini, Bush. Obama dan Bush terpola dalam citra yang menempatkan mereka berdua seolah seperti Ares dan Dewi Athena pada mitologi Yunani. Satu menebar ketakutan, yang lain juru damai dan keselamatan. Anggapan ini memang tampak terlalu menyederhanakan persoalan, karena dalam logika sehat, jika A melawan B, dan A membenci C, belum tentu juga A adalah sahabat B. Jika Obama merupakan rival politik Bush, dan kita -sebagai orang Indonesia yang masih mewarisi nilai luhur kemanusiaan- membenci segala perilaku beringas George Bush, maka tidak otomatis Obama mencintai kita. Tapi itulah mainstream pikiran orang-orang, setidaknya penduduk Indonesia saat ini, mereka telah terjebak pada pola pikir yang sarat simplifikasi: ‘musuh dari musuh, berarti teman’.
Keempat, adalah faktor yang paling tidak irrasional, yakni kebanggaan orang Indonesia bahwa Obama pernah tinggal di Indonesia, dan ayah tirinya adalah orang Indonesia. Maka tiba-tiba sang presiden Amerika terpilih ini seolah-olah menjadi sepupu dekat rakyat Indonesia. Bahkan kalau boleh, Agus, tokoh katro’ yang hobi menelepon ke luar negeri dalam iklan sebuah produk layanan seluler di Indonesia, akan menelepon Obama langsung ke White House dengan bahasa jawa! Kita dengan segera mengidentifikasi Obama sebagai bahagian dari Nusantara, meskipun ternyata dia tak pernah lagi mengunjungi Indonesia, bahkan juga tak pernah menyinggung persoalan apapun di wilayah Asia Tenggara dalam tiap kampanye politiknya. Lucu, lugu, sekaligus menyedihkan.
Obama Syndrome
Dengan berbagai alasan di atas, rakyat Indonesia sibuk dan larut dalam euforia pemilu Amerika. Dari perbincangan elit nasional sampai obrolan warung kopi, sibuk mengomentari, menganalisis, sesuai level kognisi masing-masing, tentang tokoh hebat yang namanya Obama. Di Jawa Timur, bahkan sebelumnya ada tokoh-tokoh yang menyebut dirinya ulama, mengadakan istighazah untuk mendoakan kemenangan Obama. Di Jakarta, Wimar Witoelar dan kawan-kawan larut dalam pesta perayaan kemenangan Obama atas McCain, persis setelah pengumuman hasil Pemilu Amerika diumumkan. Baju kaos oblong bergambar Obama laris mais di mana-mana. Masyarakat kota sedang gila Obama, demam Obama.
Berkumpul dan bergembira, tentu saja hak asasi setiap manusia. Tapi pertanyaannya, pantaskah? Sesuaikah respon kita terhadap fenomena politik ini? Saya tidak ingin menjawab pertanyaan ini, biarlah kita semua yang menjawab dengan perspektif masing-masing.
Namun sebagai sebuah bangsa, saya ingin melihat Indonesia terjangkit Obama-fever dari horison yang berbeda. Para teoretisi politik, bahkan para mahasiswa politik semester awal, paham bahwa penyikapan sebuah nation-state terhadap berbagai kejadian, begitu pula perumusan kebijakannya, merujuk pada tiga acuan besar : National goals (cita-cita/ tujuan bangsa), national ability (kemampuan nasional) atau national power (kekuatan nasional), dan international conditions (faktor-faktor internasional yang bersifat eksternal).
Maka sebuah bangsa yang memiliki tujuan nasional yang jelas, akan mengukur dukungan dan penolakan dari satu parameter: sejauh mana sebuah peristiwa mempengaruhi pencapaian cita-citanya. Bila pencapaian cita-cita diberi dampak positif oleh sebuah kejadian, maka dukungan menjadi suatu hal yang niscaya. Jika tidak, maka yang terjadi adalah hal yang sebaliknya. Dan bila ada suatu momen yang tidak atau belum jelas memberikan suatu pengaruh yang signifikan pada pencapaian tujuan, maka sikap yang biasa ditunjukkan adalah: “who cares?”. Sebuah bangsa yang memiliki kemampuan nasional yang cukup, maka ia akan berjalan pada trek-nya. Membangun dan memperkuat kapasitas, tanpa terlalu abai dengan hal-hal yang tidak berhubungan dengan hal tersebut. Dari pengamatan dan sisa-sisa sikap ksatria yang membuat kita masih mampu untuk jujur, kita mengakui bahwa Indonesia tidak cukup kuat dalam dua faktor di atas. Maka pengaruh yang kemudian dominan adalah international conditions. Kondisi dan situasi ekssternal yang lebih banyak mencitrakan dan mengkonstruksi tanggapan kita sebagai sebuah bangsa, dalam merespon berbagai peristiwa.
Lalu mengapa Obama? Ah, rasanya saya sungkan untuk menyebut nama-nama Paul Baran, Samir Amin, Andre Gunder Frank atau Antonio Gramscii, dan sekumpulan teoretisi sosial ‘kiri’ lainnya yang sealiran dengan mereka untuk menjawab hal ini. Tapi tidak mengapa, meskipun secara ideologi mereka dalam pandangan saya termasuk kelompok teoretisi ‘kufur’, tapi teori dependensi yang mereka lahirkan rasanya cukup bisa membuat kita memahami tentang apa yang tengah terjadi saat ini. Andre Gunder Frank mengelompokkan negara maju ke dalam negara-negara metropolis maju (developed metropolitan countries) dan negara sedang berkembang dikelompokkan ke dalam negara satelit yang terbelakang (satellite underdeveloped countries). Sementara itu, Samir Amin membagi perekonomian dunia menjadi dua, yaitu negara-negara maju di pusat (core/central) dan kelompok negara miskin pinggiran (periphery) berada di sekitar negara pusat tersebut. Nah, negara terbelakang atau periferi tersebut, dalam pandangan teori dependensia, akan amat bergantung, bahakan mengekor terhadap kebijakan dan keputusan ekonomi negara maju yang menjadi sentral.
Itu sisi ekonomi, sisi genuine dari teori dependensi ini. Namun kalau kita sedikit memodifikasi dan mengembangkannya kepada sayap sosial dan tren prilaku, ternyata dependensi alias ketergantungan kita tak hanya sebatas dunia ekonomi. Kita telah demikian lama memuja Amerika sebagai poros dunia, dan kini kekaguman itu sampai pada wilayah tren, wilayah selera, wilayah bawah sadar. Kita telah mengkonstruksi pikiran kepahlawanan kita dengan American taste, dan Obama adalah subjek idola baru, sebagai bagian dari kecamuk simulakra dalam dunia pikiran kita. Yah, ternyata dependensi kita memang keterlaluan. Tergantung di alam nyata, terjajah di alam jiwa. Wallahu a’lam.
Andree, SIP
Ketua Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana UGM,
Direktur Autonomy and Development Revitalization Institute (ANDRE